√ Sistem Reproduksi Pria : Organ, Hormon dan Gangguannya Lengkap

Diposting pada

√ Sistem Reproduksi Pria : Organ, Hormon dan Gangguannya Lengkap

 

 

Materi.Co.ID – Hay hay bertemu lagi dengan artikel materi.co.id . Kali ini kita akan membahas sistem reproduksi pria. Simak ulasan lengkap nya dibawah ini

 

√ Sistem Reproduksi Pria : Organ, Hormon dan Gangguannya Lengkap
√ Sistem Reproduksi Pria : Organ, Hormon dan Gangguannya Lengkap

 


 

Sistem Reproduksi Pria

 

Sistem reproduksi pria terdiri dari organ reproduksi, proses
pembentukan sel sperma (spermatogenesis) serta berbagai hormon yang ikut terlibat dalam sistem reproduksi.

 


 

Organ Reproduksi Pria

 

1.Testis

Testis merupakan sebuah organ kelamin laki-laki tempat dimana spermatozoa dan hormon laki-laki dibentuk. Testosteron diproduksi oleh testis, berkembang didalam abdomen sewaktu janin turun melalui saluran inguinal kiri dan kanan masuk ke dalam skrotum mendekati akhir kehamilan. Testis memiliki bentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan berada di dalam skrotum. Umumnya testis kiri sedikit lebih rendah dari testis kanan.

Testis terdiri dari belahan-belahan yang bernama lobulus testis. Pada testis, terdiri dari 200-300 lobulus dan setiap lobulus terdiri dari 3 tubulus seminiferus. Testis dibungkus oleh tunika albuginea dan
tunika vaginalis, yang akan memungkinkan masing-masing testis bisa bergerak bebas di dalam skrotum. Di dalam tubulus ada sel spermatogenik dan sel penunjang yakni sel sertoli diantara tubulus terdapat juga sel interstisial leydig. Testis memproduksi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) juga
hormon testosterone.

Fungsi testis ialah :

» Membentuk gamet
gamet baru yakni spermatozoa, dilakukan di tubulus seminiferus.

» Memproduksi hormon testosteron, dikerjakan oleh sel interstial (sel leydig). Di kirim melalui saluran yang ada dibelakang buah pelir dan melewati sebelah dalam. Di sebelah belakang saluran ini terdapat duktus deferens. Kelenjar testis akan memproduksi hormone FSH dan LH. Di samping itu testis bisa memproduksi hormone testosteron. Hormon testosterone ini disekresi oleh testis, sebagian besar berhubungan dengan protein plasma. Berkeliling dalam darah 15-30 menit kemudian disekresi.

Baca Juga  √ Kelenjar Cowper : Pengertian, Struktur, Fungsi dan Penyakitnya Lengkap

Testosterone dihasilkan pada anak usia 11-14 tahun. Pembentukan ini meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan terjadi hampir sepanjang kehidupan. Berkurangnya kecepatan produksi sesudah umur 40 tahun. Pada umur 80 tahun memproduksi testosteron lebih kurang 1/5 dari nilai puncak. Testosteron meningkat kecepatan sekresinya oleh beberapa kelenjar utama pada kelenjar sebasea. Pada wajah akan menimbulkan jerawat.

 

 

2.Saluran Pengeluaran

 

  • Epididimis

Jumlah satu pasang. Merupakan saluran yang keluar dari testis,
berbelok-belok diluar permukaan testis sepanjang kurang lebih 6m.
Berperan sebagai tempat pematangan sperma. Selama tahapan ini
sperma menjadi motil dan memperoleh kemampuan untuk membuahi.

 

  • Vas deferens

Jumlah sepasang. Saluran lurus mengarah keatas yang merupakan kelanjutan epididimis serta ujung salurannya berada dalam kelenjar prostat. Berfungsi sebagai saluran untuk jalannya sperma dari epididimis menuju vesikula seminalis (kantung semen/kantung mani).

 

  • Saluran ejakulasi

Jumlah sepasang. Berupa saluran pendek menghubungkan duktus
5 vesikula seminalis dan uretra. Memiliki fungsi untuk mengeluarkan sperma supaya masuk ke dalam uretra.

 

  • Uretra

Memiliki jumlah satu buah dan merupakan saluran yang terdapat disepanjang penis, mempunyai lubang keluar di ujung penis. Berfungsi sebagai saluran keluar urine

 

 

3. Kelenjar Asesoris

Selama sperma melalui saluran pengeluaran, akan berlangsung penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini memiliki fungsi guna mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakan sperma. Kelenjar asesoris termasuk kelenjar kelamin yang terdiri atas vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper.

 

  • Vesikula seminalis

Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang berada di belakang kantung kemih yang memproduksi zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.

 

  • Kelenjar Prostat

Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan berada pada bagian bawah kantung kemih yang menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma. Kelenjar prostat yang berkisar sebesar buah kenari, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar yang terbagi atas 4 lobus, yaitu: lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior, dan lobus medial. Memiliki fungsi untuk menambah cairan alkalis pada cairan seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra dan vagma.

 

  • Kelenjar Cowper

Kelenjar cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung mengarah uretra yang memproduksi getah yang bersifat alkali (basa).

Baca Juga  √ Nomina : Pengertian , Ciri , Jenis dan Contohnya Lengkap

 

Organ reproduksi luar terdiri dari :

 

  • Penis

Merupakan sebuah organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti dengan selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat disunat.

 

  • Scrotum

Selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis dan mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa.

 


 

Hormon Reproduksi Pria

 

  • Hormon perangsang folikel (follicle-stimulating hormone)

Hormon ini sangat penting supaya organ reproduksi pria bisa menghasilkan sperma. Setiap hari produksi sperma yang dihasilkan dapat mencapai 300 juta, dengan masa pembentukan tiap sperma sekitar 65-75 hari.

 

  • Luteinizing hormone

Saat hormon ini dilepaskan ke dalam darah, akan berlangsung produksi dan pelepasan hormon testosteron sebagai hormon utama pada pria.

 

  • Hormon testosteron

Produksi testosteron pada masa pubertas akan menimbulkan berbagai perubahan fisik. Seperti pembesaran testis serta skrotum, penis yang semakin memanjang, suara yang semakin berat, serta tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, wajah dan ketiak. Sebagian remaja laki-laki juga mendapati penambahan berat dan tinggi badan yang signifikan setelah memasuki masa pubertas. Testosteron juga dapat memengaruhi massa tulang dan gairah seksual.

 


 

Spermatogenesis

 

Spermatogenesis berlangsung pada dalam testis, tepatnya di tubulus seminiferus. Spermatogenesis bisa merangkup pematangan sel epitel germinal melalui sistem pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus lalu di simpan di epididimis.

Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epiteliun germinal (jaringan epitelium benih) yang memiliki fungsi pada saat spermatogenesis. Yang tergolong dari sejumlah sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogenium = tunggal).
Spermatogenia jenis A dapat membelah secara metosis menjadi spermatogenia tipe B. Lalu, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosis primer membelah secara meiosis membentuk 2 buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid.
Spermatosit sekunder lalu membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid. Dimana spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma).

Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Pada saat spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Akan tetapi, sesudah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom. Yang mengandunbg enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum. Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.

Baca Juga  √ Lumut Tanduk : Pengertian, Ciri, Reproduksi dan Strukturnya Lengkap

 


 

Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria

 

  • Hipogonadisme

Hipogonadisme merupakan suatu penurunan fungsi testis yang diakibatkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron.
Gangguan ini akan menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya
tanda-tanda kepriaan. Penanganan bisa dilakukan dengan terapi hormon.

 

  • Kriptorkidisme

Kriptorkidisme ialah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut bisa ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Apabila belum turun juga, dilakukan pembedahan.

 

  • Uretritis

Uretritis ialah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sering mengakibatkan uretritis yakni Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes.

 

  • Prostatitis

Prostatitis ialah peradangan prostat. Penyebabnya bisa berupa bakteri, seperti Escherichia coli maupun bukan bakteri.

 

  • Epididimitis

Epididimitis ialah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab dari epididimitis yakni E. coli dan Chlamydia.

 

  • Orkitis

Orkitis ialah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Apabila terjadi pada pria dewasa bisa mengakibatkan infertilitas

 

 


Demikianlah bahasan kita mengenai sistem reproduksi pria. Terima kasih bagi yang menyempatkan waktu untuk membaca dan mampir di artikel √ Sistem Reproduksi Pria : Organ, Hormon dan Gangguannya Lengkap. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kamu 🙂

Baca Juga Artikel Lainnya