√ Sistem Reproduksi Wanita : Pengertian, Organ, Hormon dan Kelainannya Lengkap

Diposting pada

√ Sistem Reproduksi Wanita : Pengertian, Organ, Hormon dan Kelainannya Lengkap

 

 

Materi.Co.ID – Hay hay bertemu lagi dengan artikel materi.co.id . Kali ini kita akan membahas tentang sistem reproduksi wanita. Simak ulasan lengkap nya dibawah ini

 


 

Pengertian Sistem Reproduksi Wanita

 

Sistem reproduksi wanita merupakan kumpulan organ-organ, sistem hormonal dan kelenjar dan zat-zat kimia tertentu yang membentuk sistem reproduksi wanita. Dari segi anatomis, sistem reproduksi wanita sangat berbeda dengan sistem reproduksi pada pria namun dari segi fungsi, sistem reproduksi wanita maupun sistem reproduksi pria sama-sama untuk menghasilkan keturunan.

 


 

Organ Reproduksi Wanita

 

1.Organ Reproduksi Bagian Luar

 

  • Mons Veneris

Mons veneris ini tersusun dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat. Merupakan bagian yang paling dominan yang menutupi tulang kemaluan. Bagian ini yakni bagian yang ditumbuhi dengan rambut kemaluan saat wanita sudah beranjak dewasa. Memiliki nama lain gunung venus.

 

  • Labia Mayora

Disebut juga dengan bibir kemaluan besar, pada dasarnya bentuk labia ini seperti bibir. Dan berada di bawah Mons Verenis dengan memanjang hingga ke parineum yaitu area kulit diantara lubang vagina dengan anus. Labia mayora ini terdiri dari jaringan lemak dan kelenjar ringan. Rambut kemaluan yang menutupi bagian labia mayora adalah rambut yang tumbuh di Mons Veneris.

 

  • Labia Minora

Bibir kemaluan kecil yang posisinya di dalam Labia Mayora yang tidak ditumbuhi dengan rambut kemaluan. Labia Minroa tersusun dari jaringan lemak yang memiliki banyak pembuluh darah. Baik di bagian Labia Minora maupun Mayora, keduanya terdapat area sensitif yang bisa menerima rangsangan seksual.

 

  • Klitoris

Bentuknya seperti gumpalan kecil dan berada di bagian atas Labia Minora. Klitoris menjadi bagian yang paling sensitif pada rangsangan saat berhubungan seksual. Sifat erektil pada klitoris hampir sama dengan penis pada pria.

 

  • Vestibulum

Rongga pembatas diantara dua sisi Labia Minora. Berada pada bagian bawah dan di bagian atasnya ialah klitoris. Di bagian ini juga terdapat kelenjar bartholin atau vestibular yang akan memproduksi cairan yang menjadi pelumas, saat berhubungan seksual.

 

  • Himen

Himen atau selaput dara yang merupakan sebuah selaput membran tipis yang menutupi vagina. Darah menstruasi juga biasanya keluar dari himen sebab umumnya himen memiliki satu lubang yang ukurannya sedikit lebih besar. Himen sering dihubungkan dengan keperawanan pada wanita, namun hal ini masih menjadi perdebatan para ahli. Karena banyak juga yang menyebutkan bahwa selaput dara tidak bias.

 


2.Organ Reproduksi Bagian Dalam

 

  • Vagina

Organ ini berada diantara bawah rahim dan tubuh bagian luar. Vagina ialah lorong atau jalan keluar untuk melahirkan,dan juga sebagai tempat masuknya penis selama berhubungan seksual.

 

  • Serviks atau leher rahim

Leher rahim ialah pintu masuk antara vagina dan rahim, yang berbentuk lorong sempit. Dinding serviks bersifat fleksibel, maka bisa meregang dan membuka jalan lahir saat persalinan.

 

  • Rahim atau uterus

Merupakan organ memiliki bentuk seperti buah pir yang menjadi rumah bagi janin yang sedang berkembang.

 

  • Ovarium (indung telur)

Organ ini merupakan kelenjar kecil memiliki bentuk oval yang terletak di kedua sisi rahim. Ovarium memiliki fungsi untuk menghasilkan sel telur dan memproduksi hormon seks utama, yaitu estrogen dan progesteron, yang dilepaskan ke dalam aliran darah.

Baca Juga  √ Sifat Koligatif Larutan : Pengertian, Sifat, Rumus dan Contohnya Lengkap

 

  • Saluran telur atau tuba fallopi

Tuba fallopi merupakan saluran sempit yang menempel pada bagian atas rahim mengarah ke ovarium. Saluran ini merupakan jalan bagi telur dari ovarium ke rahim dan tempat berlangsungnya pembuahan telur oleh sperma.

 


 

Oogenesis

 

Oogenesis ialah suatu proses pembentukan ovum yang berada dalam ovarium. Di dalam ovarium atau indung telur ada oogonium (oogonia = jamak). Oogonium ini memiliki sifat diploid (2n = mengandung 23 pasang kromosom atau 46 buah kromosom). Oogenesis sudah dimulai sejak bayi perempuan masih dalam kandungan ibunya berusia sekitar 5 bulan. Oogonium akan memperbanyak diri dengan membelah berulang kali secara mitosis dan membentuk oosit primer. Oosit primer terbungkus dalam folikel yang penuh dengan cairan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ovum.

Pada waktu bayi perempuan lahir, di dalam tiap ovariumnya mengandung sekitar satu juta oosit primer. Oosit primer ini mengalami dorman atau mengalami fase istirahat beberapa tahun sampai anak perempuan tersebut mengalami pubertas. Selama pertumbuhan anak perempuan, beberapa oosit primer akan mengalami degenerasi, hingga saat mencapai usia pubertas jumlah oosit primer hanya tinggal sekitar 200.000 buah.

Memasuki usia pubertas sekresi hormon estrogen akan mempercepat oosit primer untuk melanjutkan proses oogenesis; oosit primer mengalami meiosis pertama memproduksi 2 sel berbeda ukuran yaitu oosit sekunder (berukuran besar) dan polosit primer (berukuran kecil).

Oogenesis terhenti sampai terjadi ovulasi, bila tidak terjadi fertilisasi oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Tetapi bila ada penetrasi sperma dan terjadi fertilisasi, oogenesis akan dilanjutkan dengan pembelahan meiosis kedua; oosit sekunder membelah menjadi 2 yakni ootid (berukuran besar) dan polosit sekunder (berukuran kecil). Sementara polosit primer akan membelah menjadi 2 polosit sekunder. Maka pada akhir oogenesis dihasilkan 3 polosit dan 1 ootid yang berkembang menjadi ovum

 

Perkembangan folikel di dalam ovarium

Selama perkembangan oosit primer sampai menjadi oosit sekunder berada dalam folikel, yaitu suatu kantung pembungkus yang penuh cairan yang menyiapkan nutrisi bagi oosit. Semula oosit primer berada dalam folikel primer lalu berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sudah berkembang menjadi folikel tersier dan akhirnya menjadi folikel de Graaf (folikel yang sudah matang) Setelah ovulasi atau lepasnya oosit sekunder folikel telur akan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum mengalami degenersi membentuk korpus albikan

 


 


Siklus Menstruasi

 

Menstruasi atau haid merupakan pendarahan yang berlangsung akibat luruhnya dinding sebelah dalam rahim (endometrium) yang banyak mengandung pembuluh darah. Lapisan endometrium disiapkan untuk menerima implantasi embrio. Apabila tidak terjadi implantasi embrio lapisan ini akan luruh, darah keluar melalui cervix dan vagina. Pendarahan ini berlangsung secara teratur, jarak waktu antara menstruasi yang satu dengan menstruasi berikutnya dikenal dengan satu siklus menstruasi.

Siklus menstruasi wanita sangat beragam, akan tetapi rata-rata berkisar 28 hari. Hari pertama menstruasi dinyatakan sebagai hari pertama siklus menstruasi. Siklus ini terdiri atas 4 fase yaitu :

 

  • Fase menstruasi

Berlangsung apabila ovum tidak dibuahi sperma, maka korpus luteum menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron mengakibatkan lepasnya ovum dari endometrium disertai robek dan luruhnya endometrium, jadi terjadi pendarahan. Fase menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari. Darah yang keluar selama masa menstruasi ialah antara 50 – 150 ml

 

  • Fase pra-ovulasi atau fase poliferasi

Hormon pembebas gonadotropin yang disekresikan hipotalamus akan mempercepat hipofise untuk mensekresikan FSH. FSH akan mempercepat pematangan folikel dan merangsang folikel untuk mensekresikan hormon estrogen. Adanya estrogen mengakibatkan pembentukan kembali (poliferasi) dinding endometrium. Peningkatan kadar estrogen juga  bisa menyebabkan seviks (leher rahim) guna mensekresikan lendir yang bersifat basa. Lendir ini berguna untuk menetralkan suasana asam pada vagina sehingga mendukung kehidupan sperma.

Baca Juga  √ Fitohormon : Pengertian, Jenis, Fungsi dan Faktornya Lengkap

 

  • Fase Ovulasi

Apabila siklus menstruasi seorang perempuan 28 hari, maka ovulasi berlangsung pada hari ke 14. Peningkatan kadar estrogen menghambat sekresi FSH, lalu hipofise mensekresikan LH. Peningkatan kadar LH akan menstimulasi pelepasan oosit sekunder dari folikel, peristiwa ini disebut ovulasi.

 

  • Fase pasca ovulasi atau fase sekresi

Berlangsung selama 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Meskipun panjang siklus menstruasi berbeda-beda, fase pasca-ovulasi ini selalu sama yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Folikel de Graaf (folikel matang) yang sudah melepaskan oosit sekunder akan berkerut dan menjadi korpus luteum. Korpus luteum mensekresikan hormon progesteron dan masih mensekresikan hormon estrogen tetapi tidak sebanyak ketika berbentuk folikel.

Progesteron akan membantu kerja estrogen guna mempertebal dan mengembangkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium dan mempersiapkan endometrium untuk menerima implantasi embrio jika terjadi pembuahan atau kehamilan. Apabila tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan yang hanya sedikit mensekresikan hormon, sehingga kadar progesteron dan estrogen menjadi rendah. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya menstruasi demikian seterusnya.

 


 

Jenis Hormon pada Wanita

 

  • Progesteron

Hormon progesteron berpengaruh terhadap siklus menstruasi dan ovulasi. Pada saat wanita mengalami ovulasi, hormon progesteron akan membantu untuk menyiapkan lapisan bagian dalam rahim atau endometrium untuk menerima sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma. Meski berperan penting, akan tetai seringkali hormon ini memicu rasa tidak nyaman. Misalnya, 2 minggu sebelum menstruasi, hormon ini mungkin akan menyebabkan perut terasa kembung, nyeri pada payudara dan timbulnya jerawat serta perubahan emosional.

 

  • Estrogen

Hormon estrogen ini diproduksi oleh ovarium, namun dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi oleh korteks adrenal dan plasenta pada ibu hamil. Fungsi dari hormon estrogen ada banyak, yakni untuk mendukung perkembangan dan perubahan tubuh saat pubertas, termasuk perkembangan secara seksual, memastikan jalannya ovulasi dalam siklus menstruasi bulanan, keluarnya air susu ibu sesudah persalinan serta berpengaruh dalam menentukan suasana hati dan juga proses penuaan. Penurunan produksi estrogen bisa menimbulkan berbagai gangguan, seperti menstruasi yang tidak rutin, vagina yang kering, suasana hati yang tidak menentu, serta osteoporosis pada wanita lanjut usia.

 

  • Testosteron

Kadar hormon testosteron yang ada pada tubuh wanita memang tidak sebanyak pada pria, akan tetapi tetap membawa manfaat kesehatan bagi wanita. Dengan hormon ini, gairah seks wanita akan tetap stabil, tulang tetap sehat, mengelola nyeri dan menjaga kemampuan kognitif. Kadar testosteron dalam tubuh tiap- tiap wanita berbeda, dengan kisaran 15-70 ng/dL.

 

  • Luteinizing Hormone (LH)

LH pada wanita berfungsi untuk membantu tubuh mengatur siklus menstruasi dan ovulasi. Sebab, hormon ini juga mempunyai peranan dalam masa pubertas. Hormon ini diproduksi di kelenjar hipofisis (pituitary) di otak. Biasanya, kadar hormon LH pada wanita akan meningkat pada menstruasi dan sesudah menopause.

 

  • Follicle Stimulating Hormone (FSH)

Sama halnya dengan hormon LH, hormon FSH juga di produksi di kelenjar hipofisis yang memiliki peran penting dalam sistem reproduksi. Hormon ini akan membantu untuk mengendalikan siklus menstruasi, dan produksi sel telur pada ovarium. Kadar hormon FSH yang rendah bisa menandakan seorang wanita tidak mengalami ovulasi, hipofisis tidak memproduksi hormon dengan cukup, atau bisa juga menandakan kehamilan. Sebaliknya, hormon FSH yang tinggi bisa menandakan wanita memasuki masa menopause, adanya tumor di kelenjar hipofisis, atau mengalami sindrom Turner.

 


 


Kelainan Organ Reproduksi Wanita

 

  • Gangguan Menstruasi

Gangguan atau penyakit ini bisa berupa amenore primer dan juga amenore sekunder. Amenore primer ialah sebuah gejala dimana menstruasi tidak terjadi sampai usia 17 tahun dan diikuti dengan tidak berkembangnya unsur seksual sekunder. Sedangkan, amenore sekunder ialah tidak terjadinya proses menstruasi selama 3 – 6 bulan pada wanita yang telah mengalami suklus menstruasi sebelumnya.

Baca Juga  √ Kelenjar Cowper : Pengertian, Struktur, Fungsi dan Penyakitnya Lengkap

 

  • Kanker Pada Wilayah Genital

Penyakit pada sistem reproduksi manusia ini banyak ditemukan pada daerah ovarium, serviks dan juga vagina. Kanker vagina ini belum diketahui apa penyebab pastinya. Akan tetapi, para ahli menduga hal tersebut disebabkan oleh infeksi virus.

Pengobatan kanker pada vagina ini dapat dengan kemoterapi ataupun bedah menggunakan laser. Sedangkan, kanker pada mulut rahim atau serviks berlangsung apabila ada sel yang tumbuh secara abnormal di wilayah lapisan epiter mulut rahim. Dan kanker pada ovarium sendiri tidak menujukan tanda-tanda yang jelas tetapi biasanya disertai berbagai keluhan seperti rasa pegal luar biasa pada panggul, terdapat perubahan saluran pencernaan dan muncul pendarahan yang abnormal pada vagina.

 

  • Endometriosis

Merupakan gejala dimana jaringan endometrium wanita berada di luar daerah rahim yaitu di ovarium, oviduk, ataupun di jalur luar rahim wanita. Gejala yang paling sering antara lain nyeri pada bagian perut, wilayah pinggang yang sakit dan rasa tak nyaman yang berlebihan saat menstruasi.

 

  • Infeksi vagina

Penyakit ini menimbulkan gejala antara lain keputihan berlebih dengan bau yang sangat menyengat dan disertai dengan rasa gatal. Infeksi ini umumnya menyerang wanita pada usia yang produktif khususnya bagi mereka yang sudah mempunyai pasangan dan aktif melakukan kegiatan seksual. Penyebab utamanya adalah hubungan seksual.

 

  • Penyempitan Pada Oviduk

Oviduk atau saluran telur dapat mengalami penyakit dimana ia akan menyempit. Penyebabnya ditunjukkan genetis tetapi ada juga yang disebabkan oleh kuman jenis tertentu. Saluran telur yang sempit akan membuat wanita sulit mendapatkan anak karena jalan sperma terhalangi.

 

  • Mandul/Infertilitas

Hal ini bisa disebabkan oleh penyakit maupun gangguan. Pada keadaan umum, wanita akan mengalami masa subur sekali dalam sebulan. Bagi wanita yang kurang subur umumnya tidak terdapat masa subur dalam jangka waktu tertentu. Dan hal ini menandakan gejala infertilitas. Hal ini dapat diatasi dengan berbagai metode salah satunya adalah terapi makanan dan lain-lain.

 

  • Kanker Payudara

Penyakit pada sistem reproduksi manusia tepatnya pada wanita ialah kanker payudara. Meski pria juga mempunyai payudara tetapi penyakit yang satu ini lebih rentan menyerang wanita sebab jaringan lemak pada payudaranya jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan pria. Kanker payudara ini bisa menyerang wanita yang sudah menikah maupun belum.

 

  • Mola Hidalidosa

Mola hidalidosa atau hamil anggur merupakan keadaan dimana wanita mengalami kehamilan tetapi tak ada janin yang tumbuh di dalam rahim melainkan hanya gelembung bernama mola juga darah yang membeku. Hamil anggur ini bisa menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan bahkan berbuntut pada kematian yang disebabkan pendarahan.

 

  • Condiloma Accuminata

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus bernama Human Papiloma. Ditandai dengan timbulnya kutil yang terus membesar dan akhirnya menjadi cikal kanker pada mulut rahim wanita.

 

 


Demikianlah bahasan kita mengenai sistem reproduksi wanita. Terima kasih bagi yang menyempatkan waktu untuk membaca dan mampir di artikel √ Sistem Reproduksi Wanita : Pengertian, Organ, Hormon dan Kelainannya Lengkap. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kamu 🙂

Baca Juga Artikel Lainnya