√ Plasenta : Pengertian, Proses, Struktur dan Fungsinya Lengkap

Diposting pada

√ Plasenta : Pengertian, Proses, Struktur dan Fungsinya Lengkap

 

 

Materi.Co.ID – Hay hay bertemu lagi dengan artikel materi.co.id . Kali ini kita akan membahas tentang plasenta. Simak ulasan lengkap nya dibawah ini

 

√ Plasenta : Pengertian, Proses, Struktur dan Fungsinya Lengkap
√ Plasenta : Pengertian, Proses, Struktur dan Fungsinya Lengkap

 

Pengertian Plasenta

 

Plasenta merupakan sebuah organ penting yang terdapat pada proses kehamilan, posisinya tepat di dalam kandungan/rahim. Memiliki bentuk bundar seperti piringan tebal, berisi pembuluh darah yang berasal dari tali pusar,

Tali pusar yang dalam istilah medisnya dinamai Umbilical Cord, merupakan pembuluh darah yang tersusun atas 2 arteri dan satu vena. Disinilah hubungan antara ibu dan bayinya terjadi, yang mana salah satu ujung tali pusar menempel tepat pada pusar janin, sementara ujung satunya lagi melekat pada plasenta.

 


 

Proses Terbentuknya Plasenta

 

  • Pembentukan plasenta diawali dari pertumbuhan trofoblas pada hari ke 8-9 sesudah pembenihan. Organ membagi, organ yang awalnya hanya sebaris menjadi bersusun dan menghasilkan rongga yang banyak pada susunan sinsitiotrofoblas. Tahap tersebut disebut dengan tahap berongga.

 

  • Setelah sinsitium kembang ke dalam selaput rahim dan menyebabkan pembuluh darah selaput rahim hancur maka sinsitium bisa disirkulasi darah dari ibu dengan pemulihan impulsif pembuluh darah karena masuknya sel baru. Tahap tersebut dinamai dengan tahap aliran dari rahim ke plasenta ataupun proses janin ke ibu.

 

  • Kemudian trofoblas mendapatkan sekelompok organ yang akan menghasilkan membran penghubung lembut yang disebut dengan mesoderm ekstraembrional. Membran tersebut yakni membran mediator antara susunan dalam sitotrofoblas dengan organ membran heuser. Struktur yang melekat dengan sitotrofoblas menjadi membran korion, sedangkan struktur yang menempel dengan organ membran heuser menjadi penjaga kantung kuning telur.

 

  • Pada akhir pekan ketiga kandungan, mesoderm yang terwujud dari sitotrofoblas tersebut menjadi organ darah dan pembuluh darah kapiler. Lalu, rongga korion semakin melebar, maka membran embrional semakin berpencar dari membran korion, hanya disalurkan oleh segelintir membran mesoderm yang menjadi tangkai penyalur. Tangkai penyalur inilah yang selanjutnya akan bertumbuh menjadi tali pusar.
Baca Juga  √ Jaringan Epidermis : Pengertian, Ciri, Fungsi, Bentuk dan Jenisnya Lengkap

 

  • Sesudah pembuluh darah dari trofoblas menerobos rahim, trofoblas akan menjadi plasenta dewasa, maka tercipta aliran yang utama melewati pembuluh darah tali pusar. Walaupun sama-sama berkaitan, darah ibu dan darah janin konsisten tidak bisa berbaur, proses tersebut disebut dengan proses hemochorial.

 


 

Struktur Plasenta

 

Plasenta ini berbentuk lingkaran yang merupakan kumpulan jaringan dengan lebih dari 200 pembuluh darah. Letak plasenta didalam rahim normalnya dibagian korpus uterus. Plasenta ini dikelilingi dengan lapisan amnion, plasenta ini berisi pembuluh darah lanjutan dari tali pusat. Plasenta ini tersusun atas 3 bagian utama, yakni :

 

1. Bagian pada janin (Fetal Portion)

Bagian janin ini terdiri atas struktur yang dinamai korion frondosum dan vili. Korion frondosum ini ialah membran yang melindungi janin yang terdiri dari tropoblas. Sementara untuk vili dari plasenta yang matang terdiri dari :

  • Vili koriali
  • Ruang-ruang Interviler
  • Amnion yang melapisi dinding permukaan plasenta. Pada bagian bawah lapisan amnion tersebut ada cabang-cabang pembuluh darah tali pusar.

 

2. Bagian pada Ibu (Maternal Portion)

Merupakan permukaan yang mengarah ke dinding rahim, berwarna merah dan juga terbagi oleh celah-celah yang berasal dari jaringan ibu. Pada bagian tersebut terdapat desidua kompakta yang terbentuk dari 15-20 struktur berupa bulatan yang dinamai dengan sebutan kotiledon. Juga terdapat struktur yang disebut dengan desidua basalis pada bagian maternal, desidua basalis pada plasenta matang dinamai dengan lempeng korion.

 

3. Tali Pusar

Tali pusar ini mengarah dari pusat janin ke plasenta bagian permukaan janin. Tali pusar memiliki panjang berkisar 50-55 cm, dengan diameter sekitar 1-2,5 cm (sebesar jari). Tali pusar ini terdiri atas 2 arteri dan juga 1 vena. Fungsi utama dari tali pusar ini ialah untuk menyambungkan plasenta dengan bagian tubuh janin sehingga bisa menyalurkan oksigen, antibodi serta juga komponen lain yang dibutuhkan oleh janin.
Tali pusar ini terdiri dari 2 arteri dan juga 1 vena. Vena umbilicalis ini akan membawa darah dari ibu ke janin, sementara untuk arteri umbilicalis membawa darah dari janin ke ibu.
Vena umbilicalis tersebut berfungsi untuk mengalirkan darah yang mengandung oksigen, tentu juga nutrisi dalam bentuk sederhana :

  • Karbohidrat dalam bentuk glukosa
  • Protein dalam bentuk asam amino
  • Lemak dalam bentuk asam lemak
  • Vitamin
  • Mineral
  • Air
Baca Juga  √ Lisosom : Pengertian, Struktur dan Fungsinya Lengkap

 


 

Fungsi Plasenta

 

1. Pernapasan

Janin sebagai manusia yang masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan tentu memerlukan oksigen. Oksigen yang dihirup oleh ibu nantinya akan dialirkan kepada janinnya melalui tali pusar. Selanjutnya organ ini akan mengedarkan darah yang berisi oksigen dari ibu ke janin melalui proses difusi. Lalu karbondioksida yang terbentuk akan dibawa melalui tali pusar dan berdifusi ke tubuh ibu dengan bantuan sistem peredaran darah, sebelum akhirnya akan dilepaskan melalui sistem pernapasan ibu.

 

2. Nutrisi

Plasenta bisa mengubah glukosa menjadi glikoden (bentuk karbohidrat yang bisa disimpan di hati sebagai cadangan glukosa). Nutrisi yang diperoleh oleh janin akan berguna untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan ketika dibutuhkan.

 

3. Eksresi (Pembuangan)

Plasenta akan membuang setiap produk limbah yang tidak dibutuhkan oleh tubuh janin (contohnya urea dan karbodioksida).

 

4. Pertahanan (Kekebalan Tubuh)

Fungsi pertahanan pada plasenta dicapai dari 2 cara, yaitu kimia dan fisik. Secara kimia fungsi pertahanan ini berjalan melalui fungsi enzim, dimana plasenta akan menetralisir kegiatan toksik yang dicurigai. Selain itu ibu juga memberikan antibodinya pada janin. Sementara secara fisik sudah terbentuk struktur yang dihasilkan sedemikian rupa sehingga bayi terlindungi dengan baik. Pertahanan (kekebalan) tubuh sangatlah penting bagi janin, sebab hati mereka belum sanggup mengatasi unsur berbahaya yang berasal dari darah ibu.

 

5. Produksi hormon

Plasenta juga memiliki peran dalam memproduksi beberapa hormon, antara lain :

  • Human Chorionic Gonadotropin (HCG), berperan untuk mencegah terjadinya menstruasi dan menjaga kehamilan.
  • Chorionic Somatomammotropin (Placental lactogen), mempunyai fungsi khusus dalam hubungannya dengan nutrisi bagi ibu dan janin.
  • Estrogen : memiliki fungsi untuk membantu pembesaran uterus, pembesaran dan perkembangan payudara.
  • Progesteron : memiliki fungsi untuk memberikan nutrisi awal bagi embrio dan mencegah kontraksi uterus spontan yang bisa mengakibatkan keguguran.
  • Tirotropin korionik dan relaksin, hormon penunjang (hanya memberikan sedikit perubahan/dampak) dalam kehamilan.
Baca Juga  Pengertian Majas Alegori dan Contoh nya Secara Lengkap

 


 

Kelainan Plasenta

 

Berikut beberapa kasus kelainan plasenta yang mungkin bisa dijumpai pada ibu hamil :

  • Plasenta previa : yaitu letak dari plasenta yang menutupi leher rahim. Keadaan ini hampir pasti diharuskan melahirkan lewat operasi caesar. Dikarenakan, plasenta previa bisa mengakibatkan perdarahan pasca melahirkan yang dapat membahayakan nyawa ibu dan bayinya.

 

  • Plasenta akreta : Keadaan ini berlangsung saat plasenta melekat lebih dalam pada dinding rahim sehingga sulit atau tidak dapat keluar sesudah melahirkan. Sama seperti plasenta previa, ini bisa mengalami perdarahan hebat akibat plasenta skreta. Oleh karena itu, dokter akan menganjurkan operasi caesar untuk mengatasi perdarahan. Apabila perdarahan tidak bisa dihentikan, dokter mungkin melakukan langkah terakhir berupa pengangkatan rahim seluruhnya (histerektomi).

 

  • Solusio plasenta : Keadaan ini berlangsung pada saat bagian dari plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum memasuki masa persalinan. Hal ini mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di dalam plasenta, sehingga terjadi perdaahan.

 

  • Retensi plasenta : Pada saat plasenta tidak dapat dikeluarkan walaupun 30 menit sudah berlalu setelah melahirkan, retensi plasenta bisa terjadi. Keadaan ini dapat disebabkan oleh plasenta akreta atau plasenta yang terjebak sebab serviks sudah mulai menutup.

 

 

 

 


Demikianlah bahasan kita mengenai plasenta. Terima kasih bagi yang menyempatkan waktu untuk membaca dan mampir di artikel √ Plasenta : Pengertian, Proses, Struktur dan Fungsinya Lengkap. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kamu 🙂

Baca Juga Artikel  Lainnya