√ Hipersensitivitas : Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Gangguannya Lengkap

Diposting pada

√ Hipersensitivitas : Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Gangguannya Lengkap

 

 

Materi.Co.ID – Hay hay bertemu lagi dengan artikel materi.co.id . Kali ini kita akan membahas tentang hipersensivitas. Simak ulasan lengkap nya dibawah ini

 

√ Hipersensitivitas : Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Gangguannya Lengkap
√ Hipersensitivitas : Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Gangguannya Lengkap

 


 

Pengertian Hipersensivitas

 

Alergi atau hipersensitivitas merupakan suatu kegagalan kekebalan tubuh dimana tubuh seseorang menjadi hipersensitivitas dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi sangat berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang dianggap asing atau berbahaya oleh tubuh. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut allergen.

 


 

Klasifikasi Hipersensitivitas

 

Hipersensitivitas dibagi menjadi 4 golongan yakni :

 

1.Hipersensitivitas Tipe 1

Reaksi hipersensitivitas tipe 1 atau yang dikenal juga sebagai reaksi alergi, atopi dan reaksi anafilaksis ialah suatu reaksi hipersensitivitas tipe cepat yang berlangsung dalam waktu detik-menit antara waktu eksposur dengan antigen sampai dengan gejala klinis nampak, dan juga termasuk reaksi dengan manifestasi tercepat diantara ketiga tipe lain. Biasanya lagi reaksi ini dikenal sebagai reaksi alergi oleh masyarakat luas dan Von Pirquetlah orang pertama yang memperkenalkan istilah ini di tahun 1906.

Reaksi ini muncul dikarenakan adanya interaksi antibodi IgE spesifik dengan beberapa tipe antigen spesifik pula yang dinamai alergen. Interaksi silang diantara antigen antibodi tersebut pada orang yang sudah tersensitisasi serta sebelumnya memang sudah mempunyai kecenderungan untuk tersensitisasi oleh Fc reseptor pada pemukaan sel mast dan basofil ini akan mengakibatkan berlangsungnya degranulasi sel dan dilepasnya amin vasoaktif.
Bentuk kelainan hipersensitivitas tipe 1 sudah diketahui dari beberapa keadaan pada hipersensitivitas tipe 1 yang mempunyai hubungan dalam peningkatan kejadiannya akibat sectio cesarea.

mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I!

  • Fase sensitisasi: Waktu yang diperlukan untuk pembentukan IgE hingga diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil.
  • Fase aktivasi: Waktu selama terjadi pemaparan ulang dengan antigen yang spesifik, mastosit melepas isinya yang berisikan granual yang menyebabkan reaksi.
  • Fase efektor: Waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan-bahan yang dilepas mastosit dengan aktivitas farmakologik.
Baca Juga  √ Sinopsis : Cara Membuat Sinopsis dan Pengertiannya Lengkap

 

 

2.Hipersensitivitas Tipe 2

Tipe ini dikenal sebagai hipersensitivitas sitotoksik dan mempengaruhi beragam jenis organ dan jaringan. Antigen secara normal ialah endogenus, walaupun senyawa kimia eksogenus yang bisa mengikat membran sel, juga dapat mengakibatkan hipersensitivitas tipe II. Sebagai contoh ialah obat yang menginduksi terjadinya anemia hemolitik, granulositopenia dan trombositopenia. Kurun waktu munculnya reaksi ialah beberapa menit hingga beberapa jam.

Hipersensitivitas tipe II terutama ditengahi oleh antibodi IgM atau IgG dan Komplemen. Sel fagosit dan sel K juga ikut berperan.
Lesinya mengandung antibodi, komplemen dan neutrofil. Test diagnostik mencakup pendeteksian antibodi terhadap jaringan yang terlibat, yang terdapat dalam sirkulasi, terdapatnya antibodi serta komplemen dalam biopsi dengan imunofluoresen Pengobatan mengaitkan agen anti-inflamasi dan imuno-supresif.

 

 

3.Hipersensitivitas Tipe 3

Tipe ini dikenal sebagai hipersensitivitas kompleks imun. Reaksinya umum (mis. Serum Sickness) atau melibatkan organ, misal kulit (mis. S L K, Arthus Reaction), ginjal (mis. Lupus Nephritis), paru-paru (mis. Aspergillosis), pembuluh darah (mis. Polyarthritis), sendi (mis. Rheumatoid Arthritis) atau organ yang lain.

Reaksi ini ialah sebuah gambaran mekanisme patogenik suatu penyakit yang diakibatkan oleh beberapa bakteri. Waktu reaksi terjadi 3-10 jam sesudah paparan antigen. (Arthus Reaction), diperantarai kompleks imun larut, terutama IgG, walaupun IgM juga berperan serta.

Antigennya, eksogenus (Chronic bacterial, infeksi atau parasit) atau endogenus (non-organ autoimunitas spesifik, contoh SLE). Antigennya, antigen larut dan tidak menempel pada organ yang terlibat. Komponen utama ialah kompleks imun dan produk komplemen larut (C3a, 4a dan 5a). Kerusakan yang terjadi disebabkan oleh platelet dan neutrofil.

Lesinya terkandung, terutama neutrofil serta timbunan kompleks imun serta komplemen. Masuknya makrofag pada tahap akhir, berperan serta dalam proses penyembuhan. Afinitas antibodi dan besarnya kompleks imun, ialah suatu hal yang penting untuk timbulnya penyakit dan determinasi jaringan yang terlibat.

Diagnosa mengaitkan pemeriksaan biopsi jaringan untuk mengetahui adanya timbunan imunoglobulin dan komplemen, dengan imunofluoresen. Hasil pengecatan imunofluoresen hipersensitivitas tipe III ialah granular (untuk hipersensitivitas tipe II adalah linier). Adanya kompleks imun dan berkurangnya jumlah komplemen dalam serum, juga bisa digunakan sebagai diagnosa. Turbiditas yang diperantarai polietilenglikol (Nephelometri) dan tes dengan sel Raji, bisa digunakan untuk mendeteksi adanya kompleks imun. Pengobatan dengan menambahkan agen anti-inflamasi.

 

 

4.Hipersensitivitas Tipe 4

Tipe ini dikenal sebagai hipersensitivitas yang dijembatani sel atau hipersensitivitas tipe lambat (tertunda). Contoh hipersensitivitas tipe IV ialah tes Tuberkulin (Mantoux) yang bisa diketahui puncaknya pada jam ke 48 setelah suntikan antigen. Lesi karakteristik, berlangsungnya indurasi dan eritema. Hipersensitivitas tipe IV ikut serta dalam patogenesis dari beberapa penyakit autoimun dan infeksi (tuberkulosis, leprosi, blastomikosis, histoplasmosis, leishmaniasis, dll.) dan granuloma yang berlangsung sebab infeksi dan antigen asing. Bentuk lain dari hipersensitivitas tipe IV ini ialah dermatitis kontak (racun Ivy, senyawa kimia, logam berat, dll.), dimana lesinya lebih popular.

Baca Juga  √ Karbon Dioksida : Pengertian, Sifat, Fungsi dan Dampaknya Lengkap

 


 

Penyebab Gangguan Hipersensitivitas

 

1.Reaksi hipersensitivitas bisa ditimbulkan secara eksogen oleh antigen lingkungan (mikroba dan non mikroba) atau secara endogen oleh antigen diri (self).

Manusia hidup di lingkungan yang penuh dengan zat-zat yang sanggup menimbulkan respons imun. Antigen eksogen meliputi yang terdapat di debu, serbuk sari, makanan, obat-obatan, mikroba, dan berbagai bahan kimia. Respon imun akibat antigen eksogen bisa berlangsung pada berbagai bentuk, mulai dari gangguan ringan, seperti gatal-gatal kulit, hingga penyakit yang berpotensi fatal, seperti asma bronkial dan anafilaksis. Beberapa reaksi yang umum pada antigen lingkungan mengakibatkan kelompok penyakit dikenal sebagai alergi. Respon imun terhadap diri sendiri atau autologous, antigen, menyebabkan penyakit autoimun.

 

2.Hipersensitivitas umumnya diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara mekanisme efektor respon imun dan mekanisme kontrol yang berfungsi membatasi respon-respon secara normal. Faktanya banyak hipersensitivitas dianggap penyebab utamanya ialah kegagalan regulasi normal.

 

3.Perkembangan penyakit hipersensitivitas (alergi dan autoimun) sering dihubungkan dengan pewarisan gen kepekaan tertentu. Gen HLA dan banyak gen non-HLA sudah terlibat dalam berbagai penyakit, contoh spesifik akan dijelaskan dalam konteks penyakitnya.

 

4.Mekanisme cedera jaringan pada reaksi hipersensitivitas sama dengan mekanisme efektor pertahanan terhadap infeksi patogen. Masalah pada
3 hipersensitivitas yakni dikarenakan reaksi-reaksi ini kurang terkontrol, berlebihan, atau tidak tepat (misalnya secara normal berlawanan terhadap antigen lingkungan dan antigen diri).

 


 

Respon Imun Terhadap Hipersensitivitas

 

Didalam tubuh, sel limfosit membentuk suatu antibodi yang sanggup mengikat antigen seperti kuman dan sebagainya. Apabila tubuh dalam keadaan normal, maka antigen tersebut tidak akan mengakibatkan sakit sebab limfosit memproduksi antibody yang bisa melindungi tubuh. Secara normal, antibodi akan memproduksi immunoglobulin.

Salah satu jenisnya ialah IgE yang memiliki fungsi untuk merespon alergi tipe cepat (anafilaksis). Pada seseorang yang menderita alergi, kadar IgE tinggi yang spesifik terhadap zat-zat tertentu yang memicu reaksi alergi (zat alergen). Misalnya debu,susu, ikan laut dan lain – lain. Dalam jaringan tubuh, IgE yang bereaksi pada alergen – alergen diatas menempel pada sel mast ( sel yang berperan pada reaksi alergi dan peradangan).

Baca Juga  √ Invoice : Pengertian , Jenis , Fungsi dan Contohnya Lengkap

Awal kontak dengan zat alergen mulai timbul perlawanan dari tubuh yang memiliki bakat atopik yaitu terbentuknya antibodi atau immunoglobulin yang spesifik apabila IgE berkontak lagi dengan zat alergen, maka mast ini akan mengalami degarnulasi (pecah) dan mengeluarkan zat serperti histamin, kitin dan bradikinin yang terkandung dalam granulanya berperan pada reaksi alergi.

Zat-zat tersebut yang menimbulkan gejala alergi seperti gatal-gatal, diare, sakit kepala, asma. Apabila alergen tidak dihindari maka kadar IgE yang spesifik terhadap alergen itu akan semakin meningkat. Oleh sebab itu pencegahan alergi dan penangannanya dengan cara menjauhi alergen atau penyebab alergen agar tidak menjadi kronis.

 


 

Gangguan Hipersensitivitas

 

gangguan yang termasuk ke dalam hipersensitivitas tipe 1:

  • Biduran atau urtikaria merupakan gangguan pada kulit yang berbentuk ruam yang berwarna kemerahan dan mengakibatkan rasa gatal.
  • Rhinitis atau secara umum ialah reaksi alergi pada saluran pernapasan yang bisa menyebabkan bersin, hidung tersumbat atau berair, hingga muncul rasa gatal.
  • Asma : keadaan dimana terjadi penyempitan pada saluran pernapasan, produksi lendir, serta terjadi peradangan pada saluran pernapasan yang mengakibatkan gangguan sesak napas.
  • Anafilaksi : salah satu reaksi alergi yang dapat berdampak pada seluruh tubuh hingga bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa. Beberapa reaksi yang disebabkan anafilaksi termasuk kesulitan bernapas, tekanan darah yang turun drastis, bagian tenggorokan dan wajah membengkak sampai menimbulkan hal yang fatal. Apabila hal ini terjadi, penderita anafilaksi membutuhkan pertolongan medis dengan segera.

 

 

 



Demikianlah bahasan kita mengenai hipersensitivitas. Terima kasih bagi yang menyempatkan waktu untuk membaca dan mampir di artikel √ Hipersensitivitas : Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Gangguannya Lengkap. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kamu 🙂

Baca Juga Artikel Lainnya